30
Juni 2012
Tujuh puluh enam hari udah gue
tinggal di Negeri Sakura, Jepang. Status gue di sini sebagai kenshuu-sei alias “orang yang belajar”.
Sekarang gue tinggal di tempat yang namanya Chubu Kenshuu Center, tempat gue
belajar segala hal tentang Jepang, mulai dari cara hidup, tata krama, budaya,
dan tentunya Bahasa Jepang. Gak ada yang terlalu istimewa sih dari hal-hal itu,
semuanya mengalir kayak air comberan aja, klo lagi lancar, tokai juga bisa
lewat... tapi klo lagi seret, kucing juga kesandung jalan di situ... (gue
ngomong apa sih?)
Hampir semua segi kehidupan di
sini teratur-tur-tur... mulai dari jalan sampe sarana. Sumpah ya, jalan kaki di
Jepang itu aman... trotoar lebar, petunjuk jelas, nyeberang jalan aman,
pokoknya pejalan kaki itu raja di jalan. Klo inget di Indonesia, jalan kaki
adalah hal yang paling gue hindarin. Pertama, gak ada trotoar, klo pun ada
pasti udah berubah fungsi jadi lapak jualan abang-abang yang entah darimana
bisa punya “sertifikat” hak guna pakai trotoar. Kedua, petunjuk gak jelas,
petunjuk yang paling jelas cuma tukang ojek, itu pun klo dia gak lagi mabok. Ketiga,
jangan coba-coba nyeberang jalan klo gak di jembatan penyeberangan, nyawa
taruhannya. Ini pengalaman pribadi gue waktu pernah nyaris dicium taksi lagi nyeberang, padahal lampu buat mobil lagi nyala
MERAH. Gue nafsu, gue tendang tuh kaca supir... bruakkk!! Kacanya gak pecah,
kaki gue yang sakit, sial. Maka dari itu, untuk pergi ke ATM yang jaraknya cuma
100 meter dari rumah gue aja gue lebih milih naik motor gue Si Mega. Klo di
Jepang sini, jarak 1 kilometer aja gak terasa ditempuh dengan jalan kaki.
Transportasi satu-satunya yang gue pake adalah kereta. Ke stasiun jalan kaki,
ke supermarket jalan kaki, ke minimarket jalan kaki, ke toilet jalan kaki (ya
iyalah, masa terbang??!).
Tapi gak semuanya di Jepang
lebih unggul dari Indonesia. Ada beberapa hal yang bikin gue kangen Tanah Air.
Pertama, gue kangen suara adzan dari masjid-masjid. Di sini boro-boro denger
adzan, ke masjid aja harus naik kereta. Kedua, adik-adik gue, Aldi Jidat sama
Puput Bobot, baru berasa kangen mereka itu pas di sini. Gue kangen Aldi yang
sewot karena komputer rusak tapi gak berusaha buat benerin, cuma bisa komplen
ke gue dan berharap gue yang action.
Gue kangen Puput yang mulutnya gak berhenti-berhenti gegares, sebentar-sebentar, “Bang, ke Pizza Hut nyok”, “Bang, gue
lagi pengen Chitato”, “Bang, gue pengen kawin” (yang terakhir bo’ongan). Gue
kangen bokap yang (katanya) mirip gue, walau lebih banyak diem, tapi suka
bercanda juga walau becandaannya sangat khas oom-oom, lucunya aneh... sori Pap... =D. Terus gue kangen nyokap,
perhatiannya yang gede banget buat anak-anaknya, yang rela sakit demi
anak-anaknya, I love you, Mom *cium
tangan. Terus gue kangen Si Nia, mobil Daihatsu All-New Xenia gue yang warnanya
merah, yang bikin gue bangga punya mobil pertama kali dengan duit hasil
keringet sendiri, *cipok Nia. Tapi gue lebih kangen Belalang Tempur gue Si Mega, motor Honda Mega Pro tahun 2003,
dialah teman seperjuangan gue mulai SMA sampe sekarang. Si Mega adalah
pemberian dari bokap (cium tangan bokap) waktu gue kelas 3 SMA, waktu gue belom
bisa naek motor, jangankan motor laki, motor bebek aja ngegal-ngegol jalannya kayak bebek abis nelen Paramex. Tapi gue
dibeliin motor laki, biar gue jadi lelaki sejati (tepok dada). Mulai saat itu,
gue pensiun naek kendaraan umum, kemana-mana gue sama Si Mega, pokoknya sehidup-semati
selamanya sampai ajal menjemput. Selama sama Si Mega, gue pernah jatoh dua
kali. Kecelakaan itu yang bikin cacat di tangki Si Mega, kanan dan kiri ada
lekukan bekas jatoh, but hey...! chicks
dig scars, right...? jadi gue putusin buat ngebiarin bekas itu di motor
gue. Maksudnya biar keren, jadi orang bakal bilang, “wuiiih, lu pernah jatoh ke
kanan-kiri? Hebat lu, baru lu yang bisa begitu...!!” (maaf, agak berlebihan).
Terus gue juga kangen sepupu-sepupu
dan keponakan-keponakan gue yang kecil-kecil. Zaki yang kayaknya makin kurus
aja. Jack, makan yang banyak dong...!! Terus Azami yang dulu pernah gue panggil
“Lex Luthor” karena kepalanya yang bersih dari rambut. Terus Icha yang udah
mulai beranjak jadi anak SD. Terus Nazmi The
Little Bastard, anak kecil paling aneh sejagat raya yang kayaknya isi
otaknya adalah kakek-kakek berumur 130 tahun. Terus Zeera, Si Anak Kecil
Seukuran Upil yang galaknya kayak Firaun kalah main togel, dan pelitnya sampe
ke tulang-tulang. Terus Cha-Cha, kangen cubit pipinya, pengen denger lagi
suaranya manggil gue “Ulang Endut”... Yah, mereka adalah malaikat-malaikat yang
bikin hidup gue makin berwarna.
Tapi satu hal yang bikin
Indonesia lebih baik daripada Jepang, yaitu di Jepang gak ada bidadari yang
bernama Nurmalaila Saragih, temen-temen dan keluarga gue manggil dia “Ella”.
Seorang gadis yang berhasil menyandera hati gue, yang berhasil bikin gue mabok
kalo mikirin dia, gak bisa lagi ngitung 1 sampe 10, yang dengannya hati gue
terasa adem kayak ditiup kipas angin di Dufan. Yak, dialah calon istri gue,
calon ibu dari anak-anak gue nanti, calon menantu Bokap-Nyokap gue, calon kakak
ipar adik-adik gue. Gak sedetik pun gue gak mikirin dia, tiap hari gak bosen
liat wajah manisnya yang menghiasi background
laptop gue. Wanita terkuat yang pernah gue temuin. Gue punya panggilan buat dia,
yaitu 天使ちゃん (tenshi-chan) yang artinya “bidadari”, dan satu lagi 愛ちゃん (ai-chan) yang artinya “cinta”. Dan, ya
ampun, dia manggil gue dengan sebutan あなた (anata) yang artinya “sayang”, dipake oleh istri untuk manggil
suaminya. Jadi pengen mandi...
Komunikasi gue sama dia adalah
dengan WhatsApp klo untuk sekedar chatting,
pake Skype klo mau telponan atau Facebook klo mau video call. Tapi semua itu terasa kurang, malah semakin bikin gue
senewen pengen ada di sampingnya. Setiap denger suaranya yang lembut
selembut-lembutnya suara wanita, hati gue adem banget, dada gue lega, kepala
gue enteng, dan akhirnya gue lupa sama semua shukudai (PR) yang belom selesai, =D. Menurut gue, dia tipe wanita
solehah, wanita yang sangat menghormati suami (gue) sebagai imamnya, aishiteru tenshi-chan. Tipe wanita yang
udah sangat jarang ada di Tanah Air sejak isu emansipasi dihembuskan kaum
liberalis dan feminis. (muka serius)
Masih berhubungan dengan Ella, belakangan
ini gue seneng nonton Detektif Conan di www.gogoanime.com,
entah kenapa setiap gue ngeliat Shinichi-Ran, gue inget Fadhli-Ella. Selain
karena gue emang seganteng dan secerdas Shinichi (yang mau muntah ke toilet
gih), sosok Ran sangat mirip dia, mulai dari sikap tegarnya, kesetiaannya
nunggu Shinichi kembali, sampe sifat penakutnya sama hantu. Dan ada lagi
kesamaan gue-Ella dengan Shinichi-Ran, kami sama-sama suka warna merah,
walaupun kesukaan gue sama merah 90% disebabkan gue fans berat Manchester
United.
Film Conan yang menurut gue paling bagus adalah yang
tentang kasus teror bom, yang di adegan terakhirnya Ran harus menjinakkan bom
di dalam ruangan tertutup didampingi Conan (Shinichi) dari seberang pintu yang
rusak. Setelah semua kabel dipotong oleh Ran berdasarkan petunjuk Shinichi,
tapi ternyata masih ada dua kabel lagi warna merah dan biru yang bila salah
potong, bom akan meledak! Merasa udah gak tau lagi harus ngapain, Shinichi
bilang ke Ran supaya dia potong kabel mana aja yang dia suka, sementara
Shinichi akan terus diam di balik pintu sampe Ran potong kabelnya, dan dia
bilang “Ran, kalau kita memang harus mati, kita mati bersama...” aaaaaahhh,
kereeeen banget...! dan akhirnya Ran memotong kabel warna biru dan bom pun
berhenti (ya iyalah, klo mereka mati, serial Detektif Conan gimana nasibnya?),
dia gak mau potong yang merah karena dia merasa warna merah adalah warna yang
menghubungkan dia dan Shinichi, jadi dia gak mau itu terputus, sumpah, keren
abis... *ngasih penghargaan buat Gosho Aoyama...
Lagu-lagu soundtrack Detektif Conan pun sering banget gue puter di WMP. Mulai
dari 君がいれば (kimi ga ireba)
yang artinya “Seandainya Kamu Di Sini”, terus 僕がいる(boku ga iru) yang artinya “Aku Ada Di
Sini”, dan 翼を広げて(tsubasa wo
hirogete) yang artinya “Mengembangkan Sayap”. Entah kenapa setiap lirik
lagu-lagu itu terasa merepresentasikan keadaan gue sekarang yang kesepian tanpa
kehadiran Ella di sini. Apa perasaan aja kali ya...? iya kali...
Tapi yang paling sering gue
puter adalah 君がいない夏(kimi ga inai natsu)
yang artinya “Musim Panas Tanpa Kehadiranmu”, yang ini yang paling pas buat gue
(mewek)... Karena di sini sebentar lagi musim panas, dan dia gak ada di sini...
T_T
Gue udah rencanain pernikahan
gue sama dia tahun depan tanggal 4 Mei 2013. Kenapa kami pilih tanggal itu karena
di tanggal itu gak ada angka yang sama, bertepatan dengan hari Sabtu, dan pas
tanggal muda (ngerti lah maksudnya apa). Gak sabar, sumpeh...
Konsepnya adalah nuansa Betawi
dengan sentuhan Medan. Yang pasti warna temanya adalah merah. Dimulai dengan
upacara Palang Pintu dan dilanjut dengan upacara penyerahan Kain Ulos oleh
Keluarga Besar Ella yang dari Medan. Yang pasti, pernikahan itu harus yang spesial,
karena itu gue mesti urus semuanya sendiri sama Ella, biar puas.
Yak, udah dulu ngomongin soal
Ella, ntar makin meriang badan gue diserang virus kangen.
Sekarang gue bingung mau
ngapain, Ella lagi kondangan. Udah dulu hari ini dah. Mau siap-siap buat besok
jalan-jalan ke Nagoya-ko. Besok ngeliat-liat Sea World-nya Nagoya. Pasti asik
nih. Besok gue ceritain deh...