Kamis, 05 Juli 2012

Nada dan Memori...


4 Juli 2012
                Yak, kemaren lupa nulis karena keasyikan nonton Magic Kaito. Berhubung Conan udah abis ditonton, jadi pindah ke Magic Kaito deh. Sekarang nulis lagi deh...
                Sekarang nulis sambil ditemenin lagu Someone Like You – Adele. Dengerin lagu ini bikin gue inget sama Si Nia, mobil gue. Karena pertama kali gue naik Si Nia, lagu ini sering banget diputer di 98.7 Gen FM. Jadilah lagu ini melekat dengan mobil gue. Padahal kalo ditelusurin, lagu ini sama sekali gak ada hubungannya dengan mobil, tapi tentang ababil yang lagi galau. Nah, di sini gue nemu satu fenomena menarik, lagu bisa mengingatkan orang pada sesuatu, gak peduli liriknya apa.
                Kalo gue inget-inget, perjalanan hidup gue pun diiringin lagu-lagu. Misalnya lagu ini mengingatkan gue sama ini, lagu itu mengingatkan gue pada itu. Lagu pertama yang gue inget adalah Gerimis Mengundang – Slam. Lagu ini mengingatkan gue sama kura-kura gue. Waktu itu tahun 1995, gue lagi kelas 5 SD dan lagu ini lagi tenar-tenarnya. Nah, waktu itu gue mulai suka sama binatang yang namanya kura-kura (gak tau kenapa). Gue beli kura-kura dari jenis trachemys scripta elegans seharga Rp 5000, seukuran duit  logam 100 yang dulu (yang agak gede).  Waktu itu gue gak punya akuarium apalagi kolam. Jadilah gue bikin kolam-kolaman. Tanah gue gali, terus gue kasih alas plastik dan gue isi air.
Dari kolam plastik itu gue belajar satu hal penting, yaitu ternyata keterbatasan menimbulkan kreativitas, semakin terbatas fasilitas, maka ruang kreasi semakin besar. Maka dari itu gue jijik sama orang yang ngaku seniman tapi gak mau dibatasin. Ambil kasus RUU Porno yang mati-matian ditentang sama orang-orang yang ngaku seniman, dengan alasan RUU itu bisa mengekang kreativitas seniman. TUTUP MULUT KALIAN...!! KALIAN TIDAK PANTAS MENYEBUT DIRI KALIAN SENIMAN...!! Kalau memang mereka seniman, tentu mereka punya kreativitas yang tinggi yang gak akan terkekang cuma karena gak boleh nampilin tetek dan kawan-kawannya. Kita bisa lihat iklan rokok, sejak ada larangan menampilkan wujud rokok dalam setiap iklannya, iklan rokok menjadi iklan yang paling kreatif daripada iklan-iklan yang lain (menurut gue). Iklan rokok merambah ke berbagai segi kehidupan, mulai dari persahabatan sampai petualangan. Maka dari itu, gue lebih setuju kalau kebebasan lambat-laun akan mematikan kreativitas. Yang gak setuju angkat tangan...!
Balik ke kolam kura-kura. Ternyata kolam plastik gue punya kelemahan, kalau hujan bakalan tumpah. Dan terbukti, hujan gede turun dan kolam gue tumpah, kura-kura gue hilang entah kemana. Kehilangan kura-kura bikin gue gak nafsu makan (agak lebay), dan bokap gue paham situasi itu dan bilang akan bikin kolam buat kura-kura (cium tangan lagi). Gue seneng bukan main, tiap hari gue gak betah di sekolah karena pengen buru-buru pulang ngeliat perkembangan kolam gue, waktu itu dalam tahap pengeringan abis di-cor. Setelah kering, gue isi air dan batang pisang untuk menghilangkan bau semennya. Nah, di masa-masa itu gue sering denger lagu Gerimis Mengundang diputer di TV dan radio. Jadilah lagu itu melekat sama kura-kura gue yang waktu itu gue beli satu lagi dan gue kasih nama “Gohan”. Sekarang Gohan udah berumur 16 tahun, long live, my friend...!!
Yak, lagu berikutnya. Jeng jeng jeeeeng...!! Bukan Pujangga – Base Jam...!! (kok malah jadi kayak pengumuman pemenang Panasonis Award ya?). Lagu itu nge-trend waktu gue lagi kelas 1 SMP. Waktu itu kelas 1 dapet jatah masuk siang jam satu. Jadi paginya gue main sama sepupu gue, Si Opi, yang waktu itu masih lucu-lucunya (sekarang ampun dah, lebay). Lagu Bukan Pujangga juga mengingatkan gue akan bagusnya musik Indonesia tahun 1990-an. Musiknya mantap, liriknya aduhai. Kalo dibandingin sama lagu sekarang... speechless... lagu gak bermutu yang dibuat cuma untuk jadi trend sesaat dan selanjutnya dilupakan. Lagu tahun 90-an itu akan tetap abadi sampe kapan pun, karena itulah sebener-benernya musik. Gue kangen sama band-band jaman itu, macem Dewa 19, Element, Sheila On 7, Jamrud, Base Jam, /rif, Kla Project, Air, Gigi, DOT, Padi, Java Jive, Five Minutes, Wayang, Slank, Bunga, Kahitna, The Groove, dan banyak lagi. Mereka semua adalah musisi berkualitas yang berkarya dari nirwana seni yang ada di jiwa mereka. Bukan orang yang bikin lagu karena tuntutan perusahaan rekaman, yang penting bisa buat RBT, dan bisa dinyanyiin sambil joget “kucek-jemur”... (tepok jidat)...
Selanjutnya Padi, nama vokalisnya sama lho kayak gue, lagu-lagu Padi mengingatkan gue pada jaman akhir SMP dan awal SMA. Waktu acara perpisahan SMP di Taman Safari, kelas gue mainin lagu Padi di panggung, formasinya waktu itu Array dan Trian (vokal), Togay (gitar), Gemblong (bas), drum-nya gue lupa siapa. Lagu yang dibawain adalah Mahadewi dan Seperti Kekasihku dari album Lain Dunia, dua lagu itu mengingatkan gue pada saat-saat terakhir gue pake seragam putih-biru. Terus lagu Sesuatu Yang Indah dan Semua Tak Sama dari album Sesuatu Yang Tertunda. Dua lagu itu mengingatkan gue pada awal masuk SMA, yaitu kelas 1. Saat itu gue baru mulai belajar gitar dan membentuk band sama sepupu-sepupu gue, formasinya gue (vokal), Rabel (gitar), Iyunk (gitar), Gopal (bass), Boim (drum). Setiap hari gue latihan saking getol-nya baru bisa maen gitar (norak). Terus formasi itu berubah jadi gue (vokal/gitar), Rabel (gitar), Temon (bass), adik gue Aldi (drum). Lagu yang dimainin pun mulai bervariasi sampe ke lagu-lagunya Guns ‘n Roses dan Firehouse. Terus berubah lagi jadi adik gue Puput (vokal), Rabel (gitar), Agay (gitar), gue (bass), dan Aldi (drum). Dengan formasi yang terakhir itu kita main di panggung acara penutupan Peringatan 17-an RT 002. Waktu itu lagu yang kita mainin adalah Warmness On The Soul – Avenged Sevenfold dan Wake Me Up When September Ends – Green Day.
Masuk masa lulus SMA dan awal-awal universitas, lagu kenangan gue beda lagi. Lagu yang mengingatkan gue pada masa itu adalah Dust In The Wind – Scorpions. Lagu itu sering diputer Aldi di kamar. Pokoknya kalo denger lagu itu, gue inget masa-masa daftar ke Balairung UI, masa-masa ikut Paduan Suara massal (wajib sebagai mahasiswa baru), dan masa-masa untuk pertama kalinya bersentuhan dengan dunia kampus. Di kampus, gue juga membentuk band sama temen-temen gue. Gue ikut di dua band, yang satu band internal Jurusan Metalurgi, satunya lagi antar fakultas. Band internal gue namanya Metal Garden (plis jangan ketawa), formasinya Syakur (vokal), Hilmy (gitar), Ivan (gitar), gue (bass) dan Anggi (drum). Kami sukses nyanyiin Hey Jude (The Beatles) dan Helena (My Chemimal Romance) di acara Fakultas Teknik UI. Band yang satu lagi formasinya gue rada lupa, yang gue inget cuma Array sebagai vokalis, dia juga jadi vokalis di band SMP gue dulu itu. Sementara gue tetep main bass. Sisanya lupa. Nama bandnya YRO, dan kita mainin lagu Keroncong Kemayoran, mantep kan?
Masih banyak lagi lagu-lagu yang mengingatkan gue pada momen-momen tertentu dalam hidup gue. Tapi, gak satu pun lagu yang mengingatkan gue pada Ella. Kenapa? Karena gue gak butuh itu, gue gak butuh sesuatu yang jadi penghalang antara gue dan Ella, sesuatu yang harus dengannya baru gue inget Ella. Gue inget dia setiap gue narik napas, gue inget dia setiap gue mau tidur, gue inget dia setiap mau makan, pokoknya gue gak butuh lagu buat inget dia. Cuma ada beberapa lagu yang liriknya pas aja sama hubungan kita, itu pun sebatas lirik yang pas. Contohnya lagu “So Close” dari Jon McLaughlin yang jadi soundtrack film Enchanted (2007), gue udah rencanain lagu itu diputer pas resepsi pernikahan gue sama dia tanggal 4 Mei 2013 nanti... sekian dulu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar