Kamis, 05 Juli 2012

Nada dan Memori...


4 Juli 2012
                Yak, kemaren lupa nulis karena keasyikan nonton Magic Kaito. Berhubung Conan udah abis ditonton, jadi pindah ke Magic Kaito deh. Sekarang nulis lagi deh...
                Sekarang nulis sambil ditemenin lagu Someone Like You – Adele. Dengerin lagu ini bikin gue inget sama Si Nia, mobil gue. Karena pertama kali gue naik Si Nia, lagu ini sering banget diputer di 98.7 Gen FM. Jadilah lagu ini melekat dengan mobil gue. Padahal kalo ditelusurin, lagu ini sama sekali gak ada hubungannya dengan mobil, tapi tentang ababil yang lagi galau. Nah, di sini gue nemu satu fenomena menarik, lagu bisa mengingatkan orang pada sesuatu, gak peduli liriknya apa.
                Kalo gue inget-inget, perjalanan hidup gue pun diiringin lagu-lagu. Misalnya lagu ini mengingatkan gue sama ini, lagu itu mengingatkan gue pada itu. Lagu pertama yang gue inget adalah Gerimis Mengundang – Slam. Lagu ini mengingatkan gue sama kura-kura gue. Waktu itu tahun 1995, gue lagi kelas 5 SD dan lagu ini lagi tenar-tenarnya. Nah, waktu itu gue mulai suka sama binatang yang namanya kura-kura (gak tau kenapa). Gue beli kura-kura dari jenis trachemys scripta elegans seharga Rp 5000, seukuran duit  logam 100 yang dulu (yang agak gede).  Waktu itu gue gak punya akuarium apalagi kolam. Jadilah gue bikin kolam-kolaman. Tanah gue gali, terus gue kasih alas plastik dan gue isi air.
Dari kolam plastik itu gue belajar satu hal penting, yaitu ternyata keterbatasan menimbulkan kreativitas, semakin terbatas fasilitas, maka ruang kreasi semakin besar. Maka dari itu gue jijik sama orang yang ngaku seniman tapi gak mau dibatasin. Ambil kasus RUU Porno yang mati-matian ditentang sama orang-orang yang ngaku seniman, dengan alasan RUU itu bisa mengekang kreativitas seniman. TUTUP MULUT KALIAN...!! KALIAN TIDAK PANTAS MENYEBUT DIRI KALIAN SENIMAN...!! Kalau memang mereka seniman, tentu mereka punya kreativitas yang tinggi yang gak akan terkekang cuma karena gak boleh nampilin tetek dan kawan-kawannya. Kita bisa lihat iklan rokok, sejak ada larangan menampilkan wujud rokok dalam setiap iklannya, iklan rokok menjadi iklan yang paling kreatif daripada iklan-iklan yang lain (menurut gue). Iklan rokok merambah ke berbagai segi kehidupan, mulai dari persahabatan sampai petualangan. Maka dari itu, gue lebih setuju kalau kebebasan lambat-laun akan mematikan kreativitas. Yang gak setuju angkat tangan...!
Balik ke kolam kura-kura. Ternyata kolam plastik gue punya kelemahan, kalau hujan bakalan tumpah. Dan terbukti, hujan gede turun dan kolam gue tumpah, kura-kura gue hilang entah kemana. Kehilangan kura-kura bikin gue gak nafsu makan (agak lebay), dan bokap gue paham situasi itu dan bilang akan bikin kolam buat kura-kura (cium tangan lagi). Gue seneng bukan main, tiap hari gue gak betah di sekolah karena pengen buru-buru pulang ngeliat perkembangan kolam gue, waktu itu dalam tahap pengeringan abis di-cor. Setelah kering, gue isi air dan batang pisang untuk menghilangkan bau semennya. Nah, di masa-masa itu gue sering denger lagu Gerimis Mengundang diputer di TV dan radio. Jadilah lagu itu melekat sama kura-kura gue yang waktu itu gue beli satu lagi dan gue kasih nama “Gohan”. Sekarang Gohan udah berumur 16 tahun, long live, my friend...!!
Yak, lagu berikutnya. Jeng jeng jeeeeng...!! Bukan Pujangga – Base Jam...!! (kok malah jadi kayak pengumuman pemenang Panasonis Award ya?). Lagu itu nge-trend waktu gue lagi kelas 1 SMP. Waktu itu kelas 1 dapet jatah masuk siang jam satu. Jadi paginya gue main sama sepupu gue, Si Opi, yang waktu itu masih lucu-lucunya (sekarang ampun dah, lebay). Lagu Bukan Pujangga juga mengingatkan gue akan bagusnya musik Indonesia tahun 1990-an. Musiknya mantap, liriknya aduhai. Kalo dibandingin sama lagu sekarang... speechless... lagu gak bermutu yang dibuat cuma untuk jadi trend sesaat dan selanjutnya dilupakan. Lagu tahun 90-an itu akan tetap abadi sampe kapan pun, karena itulah sebener-benernya musik. Gue kangen sama band-band jaman itu, macem Dewa 19, Element, Sheila On 7, Jamrud, Base Jam, /rif, Kla Project, Air, Gigi, DOT, Padi, Java Jive, Five Minutes, Wayang, Slank, Bunga, Kahitna, The Groove, dan banyak lagi. Mereka semua adalah musisi berkualitas yang berkarya dari nirwana seni yang ada di jiwa mereka. Bukan orang yang bikin lagu karena tuntutan perusahaan rekaman, yang penting bisa buat RBT, dan bisa dinyanyiin sambil joget “kucek-jemur”... (tepok jidat)...
Selanjutnya Padi, nama vokalisnya sama lho kayak gue, lagu-lagu Padi mengingatkan gue pada jaman akhir SMP dan awal SMA. Waktu acara perpisahan SMP di Taman Safari, kelas gue mainin lagu Padi di panggung, formasinya waktu itu Array dan Trian (vokal), Togay (gitar), Gemblong (bas), drum-nya gue lupa siapa. Lagu yang dibawain adalah Mahadewi dan Seperti Kekasihku dari album Lain Dunia, dua lagu itu mengingatkan gue pada saat-saat terakhir gue pake seragam putih-biru. Terus lagu Sesuatu Yang Indah dan Semua Tak Sama dari album Sesuatu Yang Tertunda. Dua lagu itu mengingatkan gue pada awal masuk SMA, yaitu kelas 1. Saat itu gue baru mulai belajar gitar dan membentuk band sama sepupu-sepupu gue, formasinya gue (vokal), Rabel (gitar), Iyunk (gitar), Gopal (bass), Boim (drum). Setiap hari gue latihan saking getol-nya baru bisa maen gitar (norak). Terus formasi itu berubah jadi gue (vokal/gitar), Rabel (gitar), Temon (bass), adik gue Aldi (drum). Lagu yang dimainin pun mulai bervariasi sampe ke lagu-lagunya Guns ‘n Roses dan Firehouse. Terus berubah lagi jadi adik gue Puput (vokal), Rabel (gitar), Agay (gitar), gue (bass), dan Aldi (drum). Dengan formasi yang terakhir itu kita main di panggung acara penutupan Peringatan 17-an RT 002. Waktu itu lagu yang kita mainin adalah Warmness On The Soul – Avenged Sevenfold dan Wake Me Up When September Ends – Green Day.
Masuk masa lulus SMA dan awal-awal universitas, lagu kenangan gue beda lagi. Lagu yang mengingatkan gue pada masa itu adalah Dust In The Wind – Scorpions. Lagu itu sering diputer Aldi di kamar. Pokoknya kalo denger lagu itu, gue inget masa-masa daftar ke Balairung UI, masa-masa ikut Paduan Suara massal (wajib sebagai mahasiswa baru), dan masa-masa untuk pertama kalinya bersentuhan dengan dunia kampus. Di kampus, gue juga membentuk band sama temen-temen gue. Gue ikut di dua band, yang satu band internal Jurusan Metalurgi, satunya lagi antar fakultas. Band internal gue namanya Metal Garden (plis jangan ketawa), formasinya Syakur (vokal), Hilmy (gitar), Ivan (gitar), gue (bass) dan Anggi (drum). Kami sukses nyanyiin Hey Jude (The Beatles) dan Helena (My Chemimal Romance) di acara Fakultas Teknik UI. Band yang satu lagi formasinya gue rada lupa, yang gue inget cuma Array sebagai vokalis, dia juga jadi vokalis di band SMP gue dulu itu. Sementara gue tetep main bass. Sisanya lupa. Nama bandnya YRO, dan kita mainin lagu Keroncong Kemayoran, mantep kan?
Masih banyak lagi lagu-lagu yang mengingatkan gue pada momen-momen tertentu dalam hidup gue. Tapi, gak satu pun lagu yang mengingatkan gue pada Ella. Kenapa? Karena gue gak butuh itu, gue gak butuh sesuatu yang jadi penghalang antara gue dan Ella, sesuatu yang harus dengannya baru gue inget Ella. Gue inget dia setiap gue narik napas, gue inget dia setiap gue mau tidur, gue inget dia setiap mau makan, pokoknya gue gak butuh lagu buat inget dia. Cuma ada beberapa lagu yang liriknya pas aja sama hubungan kita, itu pun sebatas lirik yang pas. Contohnya lagu “So Close” dari Jon McLaughlin yang jadi soundtrack film Enchanted (2007), gue udah rencanain lagu itu diputer pas resepsi pernikahan gue sama dia tanggal 4 Mei 2013 nanti... sekian dulu...

Selasa, 03 Juli 2012

Di antara dua hujan...


3 Juli 2012
                Hujan. Yak, belakangan ini hujan banyak turun di Jepang. Dan seperti hujan-hujan di daerah lain, selalu membawa suasana damai sekaligus sepi. Bunyi air hujan yang jatuh seakan mengeluarkan semacam perasaan nostalgia di dalam hati. Perasaan yang mengingatkan gue pada siapa gue sebenarnya dan dari mana gue berasal. Otomatis otak gue langsung flashback ke 14 tahun silam, saat gue masih Kelas 6 SD.
                Saat itu juga sama, hujan lagi turun. Gue lagi di depan rumah main hujan-hujanan sama adik-adik dan sepupu gue, Indah alias Godel (sekarang ibunya Zeera). Hujan waktu itu sangat gede, bisa dibilang hampir badai. Gue dan Godel main ke luar sementara adik-adik gue tetap di depan rumah. Lokasi favorit saat main hujan-hujanan tentu selokan. Air mengalir deras saat hujan deras, cocok untuk mengapungkan sesuatu terus diikutin sampe gak bisa diikutin lagi. Apa aja yang kita temuin pasti kita apungin di selokan itu terus kita lari ngikutin. Entah apa esensi dari permainan ini. Yang jelas ada perasaan seneng yang luar biasa waktu lari di tengah guyuran hujan dan percikan air saat gue lari. Hari itu tepat sehari sebelum pengumuman kelulusan dan Nilai Evaluasi Murni (NEM) SD. Dari situlah sejarah gue terbentuk, yang akhirnya mengantarkan gue ke Jepang sekarang.
                Kenapa gue bilang sejarah gue terbentuk mulai sejak kelulusan SD gue? Karena saat itulah gue menentukan kelanjutan kisah gue sendiri, bukan bantuan orang tua. Waktu masuk TK dan SD, semua itu dipilihin sama orang tua, gak ada hubungannya dengan kemampuan gue. Tapi begitu mau masuk SMP, gue harus belajar mati-matian supaya bisa diterima di SMP Favorit, SMP Negeri 41. Semua orang bilang, kalo lulus SD, harus bisa lanjut ke SMP 41 yang butuh NEM di atas 40 dari 5 pelajaran. Waktu itu gue udah belajar keras (menurut gue), jadi yah gue serahin aja sama nasib, dan gue asik-asik aja main hujan-hujanan.
                Hari pengumuman itu pun tiba, gue dapet NEM cuma 38,51. Saran nyokap, dalam kolom pemilihan sekolah yang ada tiga, yang terakhir diisi SMP 107 aja, waktu itu SMP 107 adalah favorit kedua. Di rumah, gue isi kayak yang nyokap saranin, tapi di sekolah entah kenapa gue hapus SMP 107 dari pilihan ketiga, gue ganti dengan SMP 41, yang dengan kata lain, gue cuma mau sekolah di SMP 41, inilah satu-satunya “judi” yang pernah gue lakuin seumur hidup gue. Dan taruhan gue gak meleset, gue keterima di SMP 41 karena standar penerimaan sedang turun berkaitan dengan situasi politik Indonesia yang sedang mengalami titik balik di tahun itu, inget kejadian Mei 1998 kan? Titik balik politik Indonesia dari kegelapan Orde Baru ke Era Reformasi yang menurut gue sama gelapnya, malah lebih gelap. Jadilah gue sekolah di SMP favorit itu. Madu.
                Zaman SMP adalah zaman kegelapan buat gue. Di SMP, gue ikut geng sekolah, tawuran, malak anak SD, dan banyak lagi. Tapi gue sama sekali gak tertarik rokok lho, padahal semua temen geng gue ngerokok. Gue sempet berpikir, inikah SMP favorit itu? Gue sempet kaget juga dengan gedungnya yang kalo dibandingin sama SD gue, jauh banget kayak Sabang-Merauke. SD gue bersih, sampah cuma ada di tempat sampah, meja bersih dari corat-coret, dinding mulus, kamar mandi wangi. Tapi SMP gue... sampah bebas buang di mana aja, meja penuh tulisan, dinding penuh grafiti, dan kamar mandi jangan ditanya, bayangin aja, untuk boker gue lebih milih lari ke masjid di depan sekolah. Emang standar kurikulum yang diajarkan itu lebih tinggi dari sekolah-sekolah lain, tapi come on... fasilitasnya enggak banget.
                Keasyikan dengan aktivitas geng, prestasi gue jeblok abis. Caturwulan pertama kelas 1, gue cuma di peringkat 33 dari 47 siswa. Menyedihkan. Caturwulan 2, gue lebih jeblok lagi. Caturwulan 3 gue mulai bangkit dan dapet hasil lebih baik dari Caturwulan 1. Di kelas 1 juga gue mulai kenal yang namanya cinta monyet. Ada satu cewek yang gue suka, tapi ya namanya anak kecil, gue cuma suka aja, gak berani ketemu apalagi ngomong, hahaha dasar bocah. Setiap dia lewat pasti gue menyingkir, entah kenapa. Kalo diinget-inget, lucu banget... =D. Gue sempet mikir waktu itu, klo gue sampe sekelas sama cewek itu gimana ya? Gue gak nemu jawabannya.
                Naik ke kelas 2, kekhawatiran gue kejadian, gue harus sekelas sama cewek itu di kelas 2-9. Pelan-pelan gue biasain untuk bisa ngomong sama dia, sebatas temen sekelas, gue gak berani lebih dari itu, masih kecil. Selain itu, prestasi gue mulai membaik di kelas 2, lebih baik dari caturwulan 3 kelas 1. Caturwulan 2, nilai gue anjlok, ada nilai merah 2 biji, seumur-umur gue baru dapet nilai merah di raport waktu kelas 2 SMP itu. Raport gue sampe dilempar sama nyokap, sedih... Tapi caturwulan 3 gue bangkit lagi, melebihi nilai caturwulan 1.
                Di kelas 3, gue mulai menunjukkan taring gue. Gue dapet peringkat 9 di kelas waktu caturwulan 1. Anjlok lagi di caturwulan 2. Dan caturwulan 3 kembali melebihi caturwulan 1. Melihat pola prestasi gue, mirip kemampuan bertarung orang Saiya, yang bisa dapet kekuatan lebih bila lolos dari keadaan sekarat, hahaha... nyambung-nyambungin aja. Pada saat pengumuman NEM pun gue dapet peringkat 5 dengan nilai Matematika gue yang hampir 100, cuma salah satu nomor doang. Dan jalan gue ke SMA favorit pun mudah. Dengan lancar, gue diterima di SMA Negeri 28, SMA favorit di Jakarta Selatan. Di SMA itu pula, rantai perjalanan gue berlanjut. Madu lagi.
                Di SMA, gue tobat dari zaman kegelapan dengan ikut Kerohanian Islam (ROHIS). Prestasi gue pun mulus-mulus aja di SMA. Cita-cita gue waktu itu adalah jadi dokter, sesuai keinginan almarhumah nenek gue, Mak Aji Mariyam. Yang keburu wafat sebelum sempet gue yang ngobatin penyakitnya... T_T... Maka untuk jurusan kelas 3, gue ambil IPA untuk memuluskan jalan gue ke Fakultas Kedokteran UI. Nah, di kelas 3 ini gue dibeliin motor Honda Mega Pro sama bokap, Si Mega itu loh.
                SMA pun gue lewatin dengan mudah, lulus dengan nilai memuaskan. Tapi perjuangan sebenarnya baru dimulai, yaitu SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Di ajang pertarungan inilah, gue merasakan persaingan yang sesungguhnya, bersaing melawan semua pelajar dari seluruh Indonesia. Pilihan gue waktu itu adalah Fakultas Kedokteran UI pada pilihan pertama, dan Fakultas Teknik Departemen Metalurgi dan Material UI pada pilihan kedua. Gue gagal di pilihan pertama, jadi gue dapet pilihan kedua, yaitu Teknik Metalurgi dan Material (DMM-FTUI). Dan ternyata jalur inilah pembentuk kisah gue sekarang.
                Di DMM-FTUI semester 5, gue ambil jurusan Polimer, bukan Logam kayak temen-temen gue kebanyakan. Dan lagi-lagi, jalur inilah yang membentuk kisah gue sekarang. Waktu gue lagi riset lab untuk skripsi, dosen pembimbing gue Dr. Akhmad Herman Yuwono, M.Phil.Eng nawarin gue untuk kerja di DENSO setelah lulus S1, karena temennya di DENSO lagi nyari orang. Dan untuk menghormati tawaran Pak Herman, gue ambil kesempatan itu dan jadilah gue kerja di DENSO dan bisa beli mobil sendiri (hihihi).
                Gue sekarang bisa belajar di Jepang karena gue karyawan DENSO, gue bisa kenal sama bidadari yang namanya Nurmalaila Saragih juga karena gue kerja di DENSO. Sekarang, sambil menatap hujan yang masih berjatuhan, gue berpikir kalo seandainya waktu itu gue gak hapus pilihan SMP 107 dan ganti jadi SMP 41, mungkin gue gak akan kerja di DENSO sekarang. Kalo waktu itu gue gak bangkit dari zaman kegelapan SMP gue dan sibuk sama cinta monyet gue itu, mungkin gue gak akan bisa beli mobil sendiri. Kalo waktu itu gue lulus Fakultas Kedokteran UI, mungkin sekarang gue gak akan ada di Jepang. Kalo waktu kuliah itu gue ambil jurusan Logam dan bukan Polimer, mungkin sekarang gue lagi kerja di Freeport Papua atau Krakatau Steel, bukannya lagi belajar teknologi injection molding plastik untuk industri otomotif di Jepang kayak sekarang.
                Tapi lebih dari itu semua, seandainya urutan kisah gue tadi ada yang beda sekecil apa pun, mungkin gue gak akan pertama ketemu dengan Ella, gue gak akan bisa merasakan damai kayak yang gue rasain sekarang hanya dengan dengar suaranya atau lihat fotonya. Gue bersyukur karena itu, dan gue percaya semua yang terjadi adalah kehendak Allah, Dia sudah nulis semuanya di Lauhil Mahfudz, gak ada yang meleset satu pun...

Senin, 02 Juli 2012

Dari manakah madu itu berasal?


2 Juli 2012
                Pagi ini gue bangun dengan lega karena semalem gue mimpi aneh (klo gak bisa dibilang buruk). Gue mimpi dikejar-kejar kumpeni kayak Bang Pitung. Tapi bedanya di adegan itu udah ada mobil. Gue ngambil satu mobil polisi buat lari, udah kayak film-film mafia gitu deh. Terus gue terpojok di tempat persembunyian gue. Dan akhirnya gue ladenin mereka satu-satu. Gue abisin satu per satu, lucunya gue berantem pake jurusnya Dragon Ball, sampe terbang segala... =D, udah lah, cuma mimpi ini.
                Hari ini Ella masih ada ujian di kampusnya, semoga dia berhasil seperti biasa, amiiiin. Doain yaaaa....
                Seperti biasa dan rutin (sama aja ya?), gue selalu buka Facebook begitu pertama kali gue buka laptop. Karena dari situ gue bisa memantau perkembangan yang terjadi di temen-temen gue. Siapa yang lagi seneng, siapa yang lagi sedih, siapa yang lagi galau, siapa yang bentar lagi kawin, siapa yang bentar lagi beranak, siapa yang motornya ilang, siapa yang lagi makan bakso, siapa yang lagi berak, siapa yang pengen kentut, dan banyak lagi. Tapi jujur, di antara temen-temen gue di Facebook, gue cuma kenal 50% doang, sisanya lupa itu siapa, tapi statusnya tetep menghiasi beranda Facebook gue.
                Ada yang nulis status berisi nasehat, berisi ayat-ayat suci Al-Quran, ada yang ngasih tau apa yang lagi dilakuin (penting ya?), ada yang kampanye, ada yang jualan, ada yang mesra-mesraan, ada yang hobi unggah foto-foto, sampe tulisan aneh yang hanya seorang windtalker yang mampu membacanya. Gue coba baca tulisan begitu, dua jam baru selesai kebaca, itu pun gak ngerti maksudnya apa...
                Kolom obrolan pun jadi perhatian, gue selalu liat siapa yang lagi on-line, terutama sih ngecek apa Ella lagi OL apa nggak. Tapi gue pernah dapet obrolan masuk dari orang India (gak tau kenapa gue bisa temenan sama dia di FB), dia ngucapin salam “assalamualaikum”, tentunya gue jawab dong, kan hukumnya wajib. Eh, begitu gue jawab, dia langsung nerusin pake bahasa India, weleh, mana gue ngarti? Gue diemin aja. Eh, besoknya begitu lagi, pake bahasa India lagi, ampun dah, gue pengen hapus jadi temen, takut dosa. Gue diemin lagi aja. Mudah-mudahan yang ketiga kali gak kejadian, amin ya rabbal alamiin.
                Hari ini temen gue Si Ibnu sampe di Jepang buat ngecek mesin di Tokyo. Tapi sayangnya sama sekali gak bisa ketemu, soalnya waktunya sedikit. Gue udah nitip sesuatu ke dia dari keluarga, sekarang dititipin ke Madokoro-san, orang HANEDA. Gue minta hari Minggu untuk ketemuan buat ngambil titipan. Baik banget itu orang. Gue lagi nunggu Ibnu masuk hotel supaya bisa OL.
                Balik ke Ella, gue udah kirim WhatsApp ke dia, tapi belum dibales. Mungkin dia lagi tidur habis pulang kuliah. Gue pengen tanya ujiannya tadi, susah apa gampang. Apa dia bisa jawab semua atau enggak.
                Kalau gue pikir-pikir, Bahasa Jepang adalah alesan gue waktu ngedeketin dia dulu. Gue pura-pura nanya-nanya tentang Bahasa Jepang gitu sama dia, berbekal kemampuan Bahasa Jepang gue yang berasal dari komik Doraemon. Gue minta diajarin, dengan cara sms-an pake Bahasa Jepang, padahal itu alesan supaya gue bisa sms-an sama dia (jadi nyengir sendiri). Alhasil, karena kemampuan Bahasa Jepang gue yang tiarap, gue sama sekali gak ngerti sms-nya, padahal cuma “ima nani o shimasuka?” yang artinya “sekarang lagi ngapain?”, tapi gue balesan gue selalu sama, “itu artinya apa?”, dasar bego. Terus gue lanjut pada strategi “minta salinan referensi Bahasa Jepang”, dengan cara minjem flashdisk-nya, padahal tujuan utama gue pengen liat dokumen lain selain pelajaran Bahasa Jepang, dengan kata lain, gue pengen tahu lebih jauh tentang dia. Terutama informasi tentang statusnya, “punya pacar atau enggak”. Ternyata dari flashdisk-nya gue gak nemu informasi tentang itu, akhirnya gue cari cara lain.
                Bulan November 2010, gue dinas ke Jepang sebentar buat ngecek mesin. Selama di Jepang gue chatting sama Ella. Gue bilang gue udah beliin dia oleh-oleh, tapi gue gak bisa kasih di kantor, karena cuma dia yang gue beliin, temen-temennya enggak (padahal sengaja). Jadi gue bilang ke dia gimana kalo kita ketemu di luar aja sekalian gue ngasihin oleh-olehnya. Terus gue ajak makan malam di Pizza Hut. Eh, ternyata dia mau dengan senang hati. Berhasil. Waktu itu gue udah naksir sama dia, gue udah bisa ngeliat kelembutan hatinya. Gue udah ngeliat calon istri yang sempurna pada dirinya. Dan gue bermaksud menyatakan isi hati gue saat makan malam itu. Tapi, waktu makan malam itu, entah kenapa ada yang nahan gue supaya gak menyatakan isi hati gue ke dia saat itu. Akhirnya gue urungkan niat gue. Kami cuma ngobrol-ngobrol sambil makan. Belakangan gue bersyukur waktu itu gak jadi nembak, ternyata waktu itu dia udah punya pacar. Kalo seandainya gue tembak, pasti dia bakal jaga jarak sama gue, dan gue gak akan pernah dapetin dia, dan rencana pernikahan tanggal 4 Mei 2013 itu gak akan pernah ada.
                Terus waktu tanggal 22 Desember 2010, dua hari sebelum Nyokap gue ulang tahun. Lampu bohlam dalam kepala gue menyala dan lonceng berbunyi, gue nemu satu cara, “minta ditemenin nyari kado buat Nyokap”. Gue dapet ide itu pas lagi rapat di kantor. Tanpa buang tempo, langsung gue ambil hape dan kirim sms ajakan ke dia. Harap-harap cemas menunggu jawaban, akhirnya dateng juga sms balesan itu. Dia bales dengan memuji gue sebagai anak yang berbakti (kayak guru PPKn ya?), dan dengan senang hati mau nemenin. Jadilah kita pergi berdua ke mal buat nyari kado Nyokap. Gue minta dia yang pilihin, karena gue sama sekali gak ngerti selera ibu-ibu. Akhirnya dia milihin dompet. Kita pun makan malam. Di acara makan itu, gue cerita kalo Nyokap dan Bokap itu sama-sama Betawi Asli, jadi gue pun asli. Nah, dia bales nanya kalo gue gimana? Apa gue juga pengen nyari istri orang Betawi juga? Langsung gue jawab dengan cepat dan tangkas, ENGGAK, orang mana aja yang penting solehah. Waktu itu gue ngerasa ini sinyal bagus buat lanjut ke tahap selanjutnya. Gue ngerasa berarti dia juga pengen tahu tentang gue.
                Selanjutnya klimaks, waktu dia lagi kesusahan di jalan, yaitu ban motornya bocor. Kebetulan gue sms dia, dan dia bales klo motornya lagi bocor. Waktu itu dia berdua sama Si Ude, adiknya. Gue nanya balik dong, posisi di mana? Sama siapa? Tahu tukang tambal ban terdekat gak? Dan terus gue kontak sampe dia dapet tukang tambal ban. Menurut gue hal itu sangat wajar, tapi ternyata itulah yang membuka hatinya buat gue. Kenapa? Karena pacarnya waktu itu gak ngasih perhatian kayak yang gue kasih (jadi malu, hihihi...). Pacarnya cuma nanya lagi sama siapa? Pas dijawab lagi sama Ude, dibales “ya udah gak masalah”, gitu doang. Ya ampuuuun... -__-
                Sejak saat itu gue makin deket sama dia. Oh iya, satu hal, gue gak pernah tau dia pernah punya pacar sampe kita jadian. Di sinilah gue paham maksud kata orang tua jaman dulu, “jodoh gak bakal kemana”. Gue nembak dia pun sangat sederhana, lewat satu kata di sms, “aishiteru”, dan dia bales “atashi mo aishiteru”. Waktu itu rasanya gue pengen terbang bareng Son Goku ke Planet Namek buat membasmi Frieza.
                Sejak jadian itulah, kita mulai terbuka satu sama lain. Dia pun cerita pernah punya pacar, tapi putus 3 bulan sebelum jadian sama gue. Gue pun terus terang pernah punya pacar juga tapi udah lama putus. Dan kita sama-sama bilang bahwa “walau bukan pacar pertama, tapi kamu lah cinta pertamaku”, aaaah jadi pengen main gitar sambil nyanyi di bawah pohon sambil hujan-hujanan. Ternyata dia gak pernah cinta sama mantannya itu, dia cuma jalanin aja. Sementara gue, dia bener-bener cinta pertama gue, karena gue udah naksir sama dia sejak pertama ketemu, tapi entah kenapa gue malah jadian sama cewek lain dulu, sambil “memantau” dia, hahaha kayak Johnny English.
                Itulah sepotong kisah gue sama Ella, seterusnya madu, madu dan madu... indah sekali.
                愛してる、天使ちゃん。。。

Minggu, 01 Juli 2012

Hari Minggu yang gak asik


1 Juli 2012
                Pagi yang cerah, begitu bangun gue langsung nyari nasi uduk, kelupaan klo lagi di Jepang. Melek mata langsung keinget Ella, pasti dia masih tidur dengan wajah imutnya itu, jadi pengen cubit pipinya... Gue langsung kirim WhatsApp buat bangunin dia, kangennya udah overdosis.
                Pagi ini semua mau jalan ke Nagoya-ko, yaitu tempat yang deket laut di ujung Nagoya. Dari sini gue ke Stasiun Josui jalan kaki 15 menit, terus naik kereta bawah tanah Tsurumai Line sampe Stasiun Kamimaezu. Di situ gue ganti kereta naik Meijo Line sampe Stasiun Kanayama. Di Kanayama gue ganti kereta lagi jadi Meiko Line terus sampe abis di Stasiun Nagoya-ko. Dari situ tinggal jalan kaki dan sampe. Keliatannya ribet ya keretanya? Enggak sama sekali, semuanya jelas dan selalu ada pengumuman dengan 2 bahasa, Jepang dan Inggris. Jadi klo ada orang nyasar di Jepang, bisa dipastikan dia buta huruf atau budeg.
                Pengen mandi tapi males banget. Mau sarapan gak ada yang bisa dimakan. WhatsApp belum dibales sama Ella. Akhirnya nonton Conan lagi, kali ini di YouTube, drama live-action nya. Sekarang baru sampe episode 3, pemeran Shinichi dan Ran ganti, bukan Shun Oguri dan Tomoka Kurokawa lagi. Tapi jadi Junpei Mizobata sama Shiori Kutsuna. Walau kemistrinya kurang dibanding para pemeran yang pertama, tapi lumayan lah. Muka Junpei Mizobata mirip banget sama Izom sepupu gue, tampang blo’on-nya sama. Masa Shinichi blo’on? Shiori Kutsuna gak kalah cakep sebagai Ran daripada Tomoka Kurokawa, cuma tetep lebih montok Kurokawa.
             Satu yang aneh, entah kenapa klo bukan kartun, gue gak pernah ngebayangin Ran itu Ella kayak yang selalu gue bayangin klo lagi nonton kartunnya. Gak ada yang bisa gantiin sosok Ran yang kartun yang punya rambut tajem ke atas, yang punya wajah sejuk. Ah, tuh kan, jadi keinget bidadari gue lagi, Ella... T_T
Kulukiskan indah wajahmu di hamparan awan
Biar tak jemu kupandangi selalu
Kubiarkan semua cintamu membius jiwaku
Yang memaksaku merindukan dirimu
               Jarum jam udah menunjukkan jam 08.10, tapi gue belom ngapa-ngapain, jam 10 janjian berangkat sama temen-temen, bukan orang Indonesia doang, tapi sama orang China dan Thailand juga. Tapi selama Ella belum bangun, gue akan kemana-mana.
               Oh iya, hari ini Ella ada tes Nouryoku Shiken (macam TOEFL klo Bahasa Inggris) Level 4 di kampusnya, KAMU BISA, SAYANG...!! Gue pernah ikut Level 5 (terendah) tapi gak lulus, emang dasar bego... =D. Kecerdasannya juga yang bikin gue klepek-klepek sama dia, karena dia adalah madrasah pertama buat anak-anak gue nanti, jadi gue bersyukur banget dia cerdas. I LOVE YOU, MY ANGEL, can’t wait to raise our kids together with you... ^_^
                Akhirnya gak jadi ke Nagoya-ko. Temen-temen pada males jalan soalnya hujan turun. Akhirnya cuma ke supermarket beli makanan, itu pun jalan kaki. Gue beli onigiri 4, roti kentang 1, paket bento soba 1, sama roti tawar, semuanya jadi 1297 yen. Harusnya itu lanjut sampe makan malem, tapi yang tersisa sekarang cuma 3 onigiri, dasar gembul.
                Ella udah pulang dari Nouryokushiken-nya. Katanya Doukai-nya susah, tapi gue yakin dia bakal lulus. Gue berani mempertaruhkan kebesaran nama gue (emang gue punya nama besar?). Sekarang dia lagi makan bakso, makanan favoritnya selain mie ayam, apalagi klo pake sambel sepedes-pedesnya. Entah kenapa dia seneng banget sama makanan pedes. Gue pun gak habis pikir, apa yang enak dari makanan pedes? Bikin jidat keringetan, rambut gatel, mulut mangap, yang ada malah kembung duluan sebelum makanannya habis, pokoknya ampun dah klo suruh makan pedes.
                Sekarang dia lagi tidur, seandainya gue bisa nemenin (hus..!! belom boleh, combro...!). jadi sekarang gue nonton Conan lagi deh... PR belum dikerjain, presentasi belum selesai, badan belum dimandiin, tokai belum dikeluarin...
              Maka dari itu, gue sebut hari ini sebagai HARI TANPA SEMANGAT. End of story...sorry...