4
Juli 2012
Yak, kemaren lupa nulis karena
keasyikan nonton Magic Kaito. Berhubung Conan udah abis ditonton, jadi pindah
ke Magic Kaito deh. Sekarang nulis lagi deh...
Sekarang nulis sambil ditemenin
lagu Someone Like You – Adele. Dengerin lagu ini bikin gue inget sama Si Nia,
mobil gue. Karena pertama kali gue naik Si Nia, lagu ini sering banget diputer
di 98.7 Gen FM. Jadilah lagu ini melekat dengan mobil gue. Padahal kalo
ditelusurin, lagu ini sama sekali gak ada hubungannya dengan mobil, tapi tentang
ababil yang lagi galau. Nah, di sini gue nemu satu fenomena menarik, lagu bisa
mengingatkan orang pada sesuatu, gak peduli liriknya apa.
Kalo gue inget-inget, perjalanan
hidup gue pun diiringin lagu-lagu. Misalnya lagu ini mengingatkan gue sama ini,
lagu itu mengingatkan gue pada itu. Lagu pertama yang gue inget adalah Gerimis
Mengundang – Slam. Lagu ini mengingatkan gue sama kura-kura gue. Waktu itu
tahun 1995, gue lagi kelas 5 SD dan lagu ini lagi tenar-tenarnya. Nah, waktu
itu gue mulai suka sama binatang yang namanya kura-kura (gak tau kenapa). Gue beli
kura-kura dari jenis trachemys scripta
elegans seharga Rp 5000, seukuran duit
logam 100 yang dulu (yang agak gede). Waktu itu gue gak punya akuarium apalagi
kolam. Jadilah gue bikin kolam-kolaman. Tanah gue gali, terus gue kasih alas
plastik dan gue isi air.
Dari kolam plastik itu gue belajar satu hal penting, yaitu
ternyata keterbatasan menimbulkan kreativitas, semakin terbatas fasilitas, maka
ruang kreasi semakin besar. Maka dari itu gue jijik sama orang yang ngaku
seniman tapi gak mau dibatasin. Ambil kasus RUU Porno yang mati-matian
ditentang sama orang-orang yang ngaku seniman, dengan alasan RUU itu bisa
mengekang kreativitas seniman. TUTUP MULUT KALIAN...!! KALIAN TIDAK PANTAS
MENYEBUT DIRI KALIAN SENIMAN...!! Kalau memang mereka seniman, tentu mereka
punya kreativitas yang tinggi yang gak akan terkekang cuma karena gak boleh
nampilin tetek dan kawan-kawannya. Kita
bisa lihat iklan rokok, sejak ada larangan menampilkan wujud rokok dalam setiap
iklannya, iklan rokok menjadi iklan yang paling kreatif daripada iklan-iklan
yang lain (menurut gue). Iklan rokok merambah ke berbagai segi kehidupan, mulai
dari persahabatan sampai petualangan. Maka dari itu, gue lebih setuju kalau
kebebasan lambat-laun akan mematikan kreativitas. Yang gak setuju angkat
tangan...!
Balik ke kolam kura-kura. Ternyata kolam plastik gue punya
kelemahan, kalau hujan bakalan tumpah. Dan terbukti, hujan gede turun dan kolam
gue tumpah, kura-kura gue hilang entah kemana. Kehilangan kura-kura bikin gue
gak nafsu makan (agak lebay), dan bokap gue paham situasi itu dan bilang akan
bikin kolam buat kura-kura (cium tangan lagi). Gue seneng bukan main, tiap hari
gue gak betah di sekolah karena pengen buru-buru pulang ngeliat perkembangan
kolam gue, waktu itu dalam tahap pengeringan abis di-cor. Setelah kering, gue
isi air dan batang pisang untuk menghilangkan bau semennya. Nah, di masa-masa
itu gue sering denger lagu Gerimis Mengundang diputer di TV dan radio. Jadilah lagu
itu melekat sama kura-kura gue yang waktu itu gue beli satu lagi dan gue kasih
nama “Gohan”. Sekarang Gohan udah berumur 16 tahun, long live, my friend...!!
Yak, lagu berikutnya. Jeng jeng jeeeeng...!! Bukan Pujangga
– Base Jam...!! (kok malah jadi kayak pengumuman pemenang Panasonis Award ya?).
Lagu itu nge-trend waktu gue lagi kelas 1 SMP. Waktu itu kelas 1 dapet jatah
masuk siang jam satu. Jadi paginya gue main sama sepupu gue, Si Opi, yang waktu
itu masih lucu-lucunya (sekarang ampun dah, lebay). Lagu Bukan Pujangga juga
mengingatkan gue akan bagusnya musik Indonesia tahun 1990-an. Musiknya mantap,
liriknya aduhai. Kalo dibandingin sama lagu sekarang... speechless... lagu gak bermutu yang dibuat cuma untuk jadi trend
sesaat dan selanjutnya dilupakan. Lagu tahun 90-an itu akan tetap abadi sampe
kapan pun, karena itulah sebener-benernya musik. Gue kangen sama band-band
jaman itu, macem Dewa 19, Element, Sheila On 7, Jamrud, Base Jam, /rif, Kla Project,
Air, Gigi, DOT, Padi, Java Jive, Five Minutes, Wayang, Slank, Bunga, Kahitna,
The Groove, dan banyak lagi. Mereka semua adalah musisi berkualitas yang
berkarya dari nirwana seni yang ada di jiwa mereka. Bukan orang yang bikin lagu
karena tuntutan perusahaan rekaman, yang penting bisa buat RBT, dan bisa
dinyanyiin sambil joget “kucek-jemur”... (tepok jidat)...
Selanjutnya Padi, nama vokalisnya sama lho kayak gue, lagu-lagu
Padi mengingatkan gue pada jaman akhir SMP dan awal SMA. Waktu acara perpisahan
SMP di Taman Safari, kelas gue mainin lagu Padi di panggung, formasinya waktu
itu Array dan Trian (vokal), Togay (gitar), Gemblong (bas), drum-nya gue lupa
siapa. Lagu yang dibawain adalah Mahadewi dan Seperti Kekasihku dari album Lain
Dunia, dua lagu itu mengingatkan gue pada saat-saat terakhir gue pake seragam
putih-biru. Terus lagu Sesuatu Yang Indah dan Semua Tak Sama dari album Sesuatu
Yang Tertunda. Dua lagu itu mengingatkan gue pada awal masuk SMA, yaitu kelas
1. Saat itu gue baru mulai belajar gitar dan membentuk band sama sepupu-sepupu
gue, formasinya gue (vokal), Rabel (gitar), Iyunk (gitar), Gopal (bass), Boim
(drum). Setiap hari gue latihan saking getol-nya
baru bisa maen gitar (norak). Terus formasi itu berubah jadi gue (vokal/gitar),
Rabel (gitar), Temon (bass), adik gue Aldi (drum). Lagu yang dimainin pun mulai
bervariasi sampe ke lagu-lagunya Guns ‘n Roses dan Firehouse. Terus berubah
lagi jadi adik gue Puput (vokal), Rabel (gitar), Agay (gitar), gue (bass), dan
Aldi (drum). Dengan formasi yang terakhir itu kita main di panggung acara
penutupan Peringatan 17-an RT 002. Waktu itu lagu yang kita mainin adalah
Warmness On The Soul – Avenged Sevenfold dan Wake Me Up When September Ends –
Green Day.
Masuk masa lulus SMA dan awal-awal universitas, lagu
kenangan gue beda lagi. Lagu yang mengingatkan gue pada masa itu adalah Dust In
The Wind – Scorpions. Lagu itu sering diputer Aldi di kamar. Pokoknya kalo
denger lagu itu, gue inget masa-masa daftar ke Balairung UI, masa-masa ikut
Paduan Suara massal (wajib sebagai mahasiswa baru), dan masa-masa untuk pertama
kalinya bersentuhan dengan dunia kampus. Di kampus, gue juga membentuk band
sama temen-temen gue. Gue ikut di dua band, yang satu band internal Jurusan
Metalurgi, satunya lagi antar fakultas. Band internal gue namanya Metal Garden
(plis jangan ketawa), formasinya Syakur (vokal), Hilmy (gitar), Ivan (gitar),
gue (bass) dan Anggi (drum). Kami sukses nyanyiin Hey Jude (The Beatles) dan
Helena (My Chemimal Romance) di acara Fakultas Teknik UI. Band yang satu lagi
formasinya gue rada lupa, yang gue inget cuma Array sebagai vokalis, dia juga
jadi vokalis di band SMP gue dulu itu. Sementara gue tetep main bass. Sisanya lupa.
Nama bandnya YRO, dan kita mainin lagu Keroncong Kemayoran, mantep kan?
Masih banyak lagi lagu-lagu yang mengingatkan gue pada
momen-momen tertentu dalam hidup gue. Tapi, gak satu pun lagu yang mengingatkan
gue pada Ella. Kenapa? Karena gue gak butuh itu, gue gak butuh sesuatu yang
jadi penghalang antara gue dan Ella, sesuatu yang harus dengannya baru gue
inget Ella. Gue inget dia setiap gue narik napas, gue inget dia setiap gue mau
tidur, gue inget dia setiap mau makan, pokoknya gue gak butuh lagu buat inget
dia. Cuma ada beberapa lagu yang liriknya pas aja sama hubungan kita, itu pun
sebatas lirik yang pas. Contohnya lagu “So Close” dari Jon McLaughlin yang jadi
soundtrack film Enchanted (2007), gue
udah rencanain lagu itu diputer pas resepsi pernikahan gue sama dia tanggal 4
Mei 2013 nanti... sekian dulu...